Nabi Ismail a.s. Sang Pemilik Hati yang Lembut

Nabi Ismail a.s. Sang Pemilik Hati yang Lembut

Nabi Ismail a.s. Sang Pemilik Hati yang Lembut | Khazanah Kadisiyah

Ditulis pada: | Oleh:

Ismail a.s. merupakan putra dari Nabi Ibrahim a.s. dari istri keduanya, Hajar. Kata "ismail" dalam bahasa Ibrani berarti "Tuhan (telah) mendengar", sebagai ungkapan sukacita Ibrahim atas dikabulkannya doa  permohonan untuk diberi keturunan. Ismail adalah bapak kaum Quraisy, kakek-buyut Nabi Muhammad SAW.

Adapun Hajar, menurut sebuah riwayat, adalah putri dari Raja Maghribi. Ayahnya meninggal tatkala kerajaannya diserbu Bangsa Mesir, dan Hajar sendiri kemudian dijadikan budak oleh Fir’aun. Hajar kemudian dihadiahkan oleh Fir’aun kepada Siti Sarah, di mana mereka pernah menetap di Mesir selama lima tahun. Kata "hajar" dalam bahasa Arab berarti "batu". Namun konon, nama tersebut adalah pemberian Fir’aun, karena pernah menginginkan Sarah, lalu memberikan budaknya yang kemudian disebut "ha-ajruka", yang berarti "dia (perempuan) adalah balas-jasa bagimu".

Kelahiran Ismail

Pernikahan Ibrahim a.s. dengan Siti Hajar terjadi pada saat Ibrahim berusia 85 tahun, sementara Siti Sarah, istrinya yang pertama, berusia 76 tahun, di mana saat itu mereka telah menetap di daerah Kanaan, yakni Kota Hebron. Sarah mengizinkan Ibrahim menikahi Hajar, karena tidak kunjung dikaruniai anak. Pada saat Ismail dilahirkan, Ibrahim a.s. telah berusia 86 tahun.

Dalam Al-Qur’an, diceritakan bahwasanya Ibrahim berdo’a: "Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih" (Q.S. Ash-Shaaffaat [37]: 100). Lalu Allah menjawab doanya:

فَبَشَّرْ‌نَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang ‘ghulamin halim’ (anak yang lembut). —Q.S. Ash-Shaaffat [37]:101)

Ayat ini mengidentifikasikan Ismail sebagai ghulamun halim (anak yang lembut), yang sekaligus merupakan bantahan terhadap Ahlul-Kitab yang mengatakan bahwa Ismail adalah seorang anak yang kasar (Kitab Kejadian 16: 11-12). Sementara kelahiran Ishaq a.s., dalam Al-Qur’an, diidentifikasi dengan kata ghulamun ‘alim (anak yang berpengetahuan), sebagaimana terdapat dalam Q.S. Al-Hijr [15]: 53 dan Q.S. Adz-Dzaariyaat [51]: 28.

Gulamun Halim dan
Gulamun 'Alim

Lembah Bakkah

Lahirnya Bangsa Quraisy tidak terlepas dari keberadaan Siti Hajar dan Ismail a.s. yang hijrah dari Hebron ke Lembah Bakkah, di Jazirah Arabia, yang berjarak sekitar 1.200 km (700 mil). Perjalanannya biasa ditempuh melalui rute "Jalur Wewangian" (Incense Road), yang membentang di antara daerah Arabia Selatan hingga Mediterania. Perjalanan dari Hebron ke Bakkah membutuhkan waktu sekitar empat puluh hari dengan unta, atau dua bulan dengan keledai.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa telah terjadi perselisihan pendapat antara Ibrahim dengan istri pertamanya, Sarah, yang kemudian membuat Ibrahim memutuskan untuk membawa pergi Hajar dan Ismail yang masih menyusu. Beberapa riwayat menyebutkan, sekalipun Hajar telah menjadi istri kedua Ibrahim, namun statusnya masih menjadi pelayan bagi Sarah.

Semasa Ismail masih dalam kandungan, Hajar pernah pula mencoba melarikan diri kembali ke Mesir. Sambil menyeret sabuk di belakangnya sebagai upaya menghapus jejak kakinya dari Sarah (Shahih Bukhari), Hajar berjalan dan akhirnya kelelahan, lalu beristirahat pada sebuah mata air. Pada saat itulah sesosok malaikat menghampiri Hajar, yang kemudian menghibur dan menguatkannya: "Janganlah engkau takut, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan memberimu anak yang shalih", seraya berpesan agar kelak memberikan nama pada anaknya: "Ismail".

Terlepas dari semua kejadian yang melatar-belakanginya, Allah telah berfirman kepada Ibrahim untuk menuruti permintaan Sarah, dan membawa Hajar dan Ismail keluar dari Hebron menuju Lembah Bakkah. Berbagai ujian telah diterima Ibrahim, dan kini Ibrahim pun tetap melaksanakannya dengan keyakinan yang teguh kepada Allah Ta’ala. Atas semua ketaatan dan pengorbanannya ini, kelak Allah memberikan kepada Ibrahim anak-cucu dari kalangan nabi dan rasul, serta keturunan yang besar dan menguasai wilayah yang membentang antara Sungai Eufrat-Tigris di Mesopotamia hingga Sungai Nil di Mesir.

Maka berangkatlah Ibrahim membawa Hajar dan Ismail, meski Hajar tidak mengetahui akhir tujuan mereka. Hingga setelah beberapa hari lamanya, sampailah mereka di sebuah Lembah Bakkah yang tidak berpenghuni, yang dikelilingi Pegunungan Sirat dengan puncak-puncaknya: Jabal Ajyad, Jabal-Qubais, Jabal-Qu’aiqain, Jabal Hira, dan Jabal-Thair.

Sesampainya di lembah itu, Ibrahim membawa Hajar dan Ismail ke sebuah lokasi dekat sebuah pohon untuk bernaung. Setelah menaruh kantung berisi kurma dan tempat air dari kulit, Ibrahim lantas berbalik dan pergi meninggalkan Hajar dan Ismail.

Siti Hajar pun berlari mengejar Ibrahim: "Wahai Ibrahim! Kemana engkau hendak pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah ini, di mana tidak ada seorang pun teman dan apapun juga?" Berulangkali Hajar menanyakan hal yang sama, namun Ibrahim tidak tidak menoleh sedikit pun. Hingga akhirnya Hajar bertanya: "Apakah Allah memerintahkanmu melakukan ini?" Ibrahim menjawab singkat, "Ya". Hajar pun berhenti mengejar Ibrahim dan berkata: "Kalau demikian, kami tidak disia-siakan!" Hajar pun kembali ke tempat Ismail ditinggalkan.

Ketika sampai di Tsaniyah, Ibrahim menghadapkan wajahnya ke arah Mekkah, seraya melantunkan doa yang direkam di dalam Al-Qur’an:

رَّ‌بَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّ‌يَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ‌ ذِي زَرْ‌عٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّ‌مِ رَ‌بَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْ‌زُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَ‌اتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُ‌ونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. —Q.S. Ibrahim [14]:37)

Sepeninggal Ibrahim, dengan cepat perbekalan yang hanya sedikit mulai habis. Hajar pun mulai kehausan, demikian halnya dengan Ismail yang mulai kekurangan pasokan asi dari ibunya. Hajar pun memandangi Ismail yang masih bayi. Karena tidak kuasa melihat penderitaan Ismail, maka Hajar meninggalkan Ismail dengan harapan menemukan pertolongan.

Di tengah cuaca Lembah Bakkah yang kering dan panas, disertai rasa lapar dan haus, Hajar berlari-lari menuju ke atas Bukit Shafa agar ia dapat melihat jauh dari ketinggian. Sesampainya di sana, Hajar memeriksa dataran di sekitarnya berharap ada rombongan khafilah yang lewat. Hajar pun menuruni Bukit Shafa dan berlari-lari menaiki Bukit Marwah yang berada di seberangnya. Sebagaimana di Shafa, Hajar pun mengamati dataran di sekitarnya namun tidak nampak seorang pun di sana. Hajar pun lantas menuruni Bukit Marwah. Namun rasa sayangnya kepada Ismail membuatnya kembali menaiki Bukit Shafa, namun kembali yang terlihat hanya padang pasir kosong tak bertuan. Sekali lagi Hajar turun dari Bukit Shafa dan kembali ke Bukit Marwah. Hal tersebut dilakukannya berulang kali sebanyak tujuh putaran.

Tatkala Siti Hajar berada di atas Bukit Marwah pada kali ketujuh, ia mengira telah mendengar suara manusia, maka Hajar pun diam dan berdiri tenang, berusaha menyimak dengan lebih seksama. Saat suara itu kembali terdengar, segera Hajar berkata: "Wahai, engkau yang telah membuatku dapat mendengar suaramu! Apakah engkau memiliki sesuatu yang dapat menolongku?" Kemudian, ketika pandangannya jatuh ke tempat Ismail, Hajar melihat sesosok malaikat berdiri di dekat putranya itu.

Malaikat tersebut, yakni Jibril a.s., kemudian mengepakkan salah satu sayapnya ke tanah, dan memancarlah air dari dekat kaki Ismail. Hajar bergegas menuruni Marwah dan dengan kedua tangannya membentuk sebuah ceruk di sekitar sumber air untuk mengumpulkan airnya, seraya berkata: "Zam-zam…", yang artinya "kumpulah-kumpulah". Setelah terkumpul, Hajar menciduk air itu untuk mengisi kantung airnya.

Setelah meminum air ini, Hajar pun kembali dapat menyusui Ismail. Pada saat itu, Jibril berkata: "Janganlah engkau takut ditinggalkan! Karena di sini akan dibangun sebuah Rumah Allah oleh anak ini bersama bapaknya. Dan sesunguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan umat-Nya."

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW pernah bersabda: "Semoga Allah memberikan rahmat kepada ummu Ismail (Siti Hajar). Seandainya ia tidak menciduk air zamzam (dengan kedua tangannya), niscaya air zamzam itu hanya akan menjadi sumber air yang terbatas."

Dengan pertolongan Allah lah, Siti Hajar dan Ismail dapat bertahan di lembah tandus Bakkah. Dan keberadaan sumber air di dekat Jalur Wewangian itu pada akhirnya menarik orang datang ke sana. Kaum yang pertama kali datang adalah dari Bani Jurhum (dalam Al-Kitab dikenal sebagai kaum Yorhamit) yang berasal dari Yaman, di sekitar Semenanjung Arab. Bani Jurhum adalah keturunan dari Eber bin Qaynan bin Arpakhsad bin Sem bin Nuh. Artinya, kaum tersebut masih merupakan keturunan Semit (bin Sem), dan dapat dikatakan sebagai sepupu jauh Ibrahim maupun Ismail.

Ketika sekelompok musafir dari Bani Jurhum melintasi Pegunungan Sirat dari arah selatan, dari kejauhan mereka melihat burung berputar-putar di angkasa. Seorang dari mereka berkata, "Burung-burung itu tentulah mengitari sumber air, padahal kita semua tahu tidak terdapat air di sana." Maka mereka menyuruh beberapa orang untuk menyelidiki lokasi di mana burung-burung itu terbang.

Ibnu Abbas mengisahkan, Siti Hajar berada di dekat Sumur Zamzam tatkala para musafir dari Bani Jurhum itu datang ke sana. Dan ketika mereka meminta izin tinggal, Hajar berkata, "Kalian boleh tinggal di sini, tetapi tidak berhak menguasai sumber air ini." Demikianlah, Lembah Bakkah berkembang dengan keberadaan mata air Zamzam. Adapun bahasa yang kemudian berkembang di sana adalah Bahasa Arab, sebagaimana yang dibawa oleh Bani Jurhum dan Bani Amaliq serta suku-suku lain dari daerah Yaman.

Ismail tetap tinggal di Lembah Bakkah hingga akhir hayatnya. Beliau pernah menikah dengan seorang perempuan dari Suku Amaliq, bernama Imarah putri dari Sa’ad bin Usamah bin Ukail Al-Amaliqi. Namun Ibrahim a.s. menyuruhnya menceraikan wanita tersebut. Ismail menikah lagi dengan seorang wanita dari Bani Jurhum, bernama Sayidah putri dari Madhadh bin Amr al-Jurhumi.

Sebelum meninggal, Ismail berwasiat kepada Ishaq agar menikahkan putrinya, Nishamah, dengan putra pertama Ishaq yang bernama Al-Aish. Konon dari pernikahan ini lahir keturunan yang menjadi cikal bakal bangsa Yunani dan Romawi.

Peta Perjalanan Ismail

Pengurbanan Ismail

Di dalam Al-Qur’an Surah Ash-Shaaffaat, cerita tentang Nabi Ibrahim a.s. dikisahkan secara runtun. Diawali dari Q.S. Ash-Shaaffaat [37]: 83-97 yang menceritakan Ibrahim dengan para penyembah berhala. Q.S. Ash-Shaaffaat [37]: 98-99 menceritakan kisah pembakaran Ibrahim oleh kaumnya, hingga akhirnya Ibrahim memutuskan untuk hijrah.

Lalu pada Q.S. Ash-Shaaffaat [37]: 100 terdapat doa Ibrahim yang memohon keturunan anak yang shalih. Disusul ayat-ayat yang menceritakan kabar gembira tentang kelahiran Ismail serta kisah pengurbanannya (Q.S. Ash-Shaaffaat [37]: 101-111). Lalu diakhiri dengan kabar gembira tentang kelahiran Ishaq pada Q.S. Ash-Shaaffaat [37]: 112-113.

Dari urutan ayat-ayat tersebut terlihat jelas bahwa peristiwa pengurbanan Ismail terjadi sebelum kelahiran Ishaq, yang menurut sebagian besar ulama terjadi tatkala Ibrahim berusia 100 tahun dan sebagian lain mengatakan lebih dari 100 tahun. Artinya, pada saat peristiwa pengurbanan Ismail, umur Ismail kurang lebih 13 tahun.

Pada kurun tersebut dikisahkan dalam mimpinya (ru’ya), Ibrahim diperintah oleh Allah Azza wa Jalla untuk mengurbankan Ismail. Mimpi tersebut berlangsung hingga tiga kali. Maka kemudian Ibrahim mendatangi Ismail seraya berkata: "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ismail menjawab: "Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (Q.S. Ash-Shaaffaat [37]: 102). Al-Qur’an pun menceritakan:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَ‌اهِيمُ

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّ‌ؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Tatkala keduanya telah berserah diri (aslama) dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya. Dan kemudian Kami memanggilnya ‘Ya, Ibrahim, sesunguhnya kamu telah membenarkan ru’ya (mimpi) itu, sesungguhnya demikianlah kami membalas para muhsinin (ihsan).’ Sesungguhnya itu benar-benar ujian (bala) yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. —Q.S. Ash-Shaaffat [37]: 103-107)

Pembangunan Baitullah

Mekkah kian ramai dikunjungi para peziarah ibadah haji dan ihram, setelah Ibrahim a.s. dan Ismail a.s. meninggikan fondasi Baitullah, yang kemudian dikenal sebagai Ka’bah. 

وَإِذْ يَرْ‌فَعُ إِبْرَ‌اهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَ‌بَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. —Q.S. Al-Baqarah [2]: 127

 

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَ‌كًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. —Q.S. Ali ‘Imran [3]: 96

Ritual ibadah haji dan ihram diajarkan Ibrahim tidak hanya kepada keturunan Ismail dan kaum di Jazirah Arab saja, tetapi juga dikenal oleh keturunan Ibrahim yang lain dari jalur Ishaq a.s. Mereka semua memuliakan Ka’bah sebagai Rumah Allah (Baitullah), serta mengerjakan haji dan ihram di sana sebagaimana diajarkan Ibrahim, moyangnya.

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَ‌اهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِ‌كْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ‌ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّ‌كَّعِ السُّجُودِ

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِ‌جَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ‌ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُ‌وا اسْمَ اللَّـهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَ‌زَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ‌

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَ‌هُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)." —Q.S. Al-Hajj [22]: 26-29)

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a., bahwasanya Allah Azza wa Jalla membimbing Ibrahim dalam membangun Baitullah. Dan Allah pun membimbing Ibrahim menuju tempat yang sudah dipersiapkan untuk pembangunan Baitullah tersebut, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj [22]: 26: "Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan kepada Ibrahim tempat bagi rumah (Baitullah)."  

Dan juga dikemukakan oleh sebagian ulama salaf, "Sesungguhnya di setiap langit terdapat rumah (Baitullah) yang dijadikan tempat menyembah Allah oleh penduduk tiap-tiap langit. Rumah itu adalah seperti Ka’bah bagi penduduk bumi."[]