Kisah Sufi: Ali Ibnu Harzihim

Kisah Sufi: Ali Ibnu Harzihim

Kisah Sufi: Ali Ibnu Harzihim | Khazanah Kadisiyah

Ditulis pada: | Oleh:

Ini adalah kisah tentang Ali Ibnu Harzihim—belakangan dikenal sebagai Sidi Harzihim—adalah seorang ulama fiqih terkemuka dari Maroko. Pada suatu mimbar, dia memerintahkan agar semua manuskrip Ihya 'Ulumuddin dicari dan dikumpulkan untuk dibakar.

Malam menjelang pembakaran kitab-kitab Ihya 'Ulumuddin, Ali Ibnu Harzihim bermimpi masuk dalam sebuah masjid, di mana di dalamnya hadir Rasulullah SAW, Abu Bakar r.a. dan Umar r.a., serta Imam Al-Ghazali berdiri di hadapannya. Maka Ali Ibnu Harzihim pun mengadu kepada Rasulullah.

"Dia adalah musuhku, ya, Rasulullah!", kata Ali Ibnu Harzihim seraya menunjuk Imam Al-Ghazali. "Jika dia benar, maka aku bertaubat kepada Allah. Sebaliknya bila aku benar, karena aku mengikuti sunnahmu, maka ambilkan hakku dari musuhku."

Kemudian diberikan kepada Nabi SAW kitab Ihya 'Ulumuddin, dan beliau membukanya selembar demi selembar kemudian berkata: "Demi Allah, ini adalah sebuah kitab yang sangat baik."

Kemudian Nabi SAW menyerahkan kitab itu kepada sahabatnya, Abu Bakar r.a. Maka Abu Bakar membukanya selembar demi selembar, kemudian berkata: "Demi Dzat yang mengutusmu dengan haqq, sesungguhnya ini kitab yang sangat baik."

Maka kitab itu diberikan kepada Umar bin Khattab r.a., dan beliau membukanya selembar demi selembar. Umar pun memuji kitab itu sebagaimana ucapan Abu Bakar.

Maka Nabi SAW pun memerintahkan agar Ali Ibnu Harzihim dicambuk atas kesalahan tuduhannya. Maka saat sudah dicambuk 5 kali, Abu Bakar maju untuk memintakan maaf: "Ya Rasulullah, mungkin dia mengira apa yang terdapat dalam kitab Ihya itu menyalahi sunnahmu, sehingga dia keliru dalam tuduhannya."

Imam Al Ghazali menyatakan persetujuannya atas permintaan maaf Abu Bakar. Maka Rasulullah SAW pun memaafkan Ali Ibnu Harzihim.

Tatkala Ali Ibnu Hirzihim terbangun dari tidurnya, dan menyadari bahwa ada bekas cambukan di punggungnya, dia pun ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah atas kesalahan persangkaan dan tuduhannya.

Namun rasa sakit bekas cambukan dalam mimpi itu masih terasa sampai waktu yang lama, hingga dia terus memohon ampunan kepada Allah dan meminta syafa'at kepada Rasulullah SAW. Maka pada suatu malam, Ali Ibnu Harzihim kembali bermimpi bertemu Nabi SAW, yang mengusap punggungnya dengan tangan beliau hingga sembuh rasa sakitnya.

Ali Ibnu Harzihim dilahirkan di Fez, Maroko, dan juga wafat (1163 M) dan dimakamkan di sana. Beliau memiliki nama lengkap Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Muhammad bin Abdullah bin Harzihim, dikenal sebagai Sidi Harzihimkata “sidi adalah sebutan kehormatan bagi penduduk Maghrib, serupa  dengan sayyid dalam bahasa Arab.

Sidi Harzihim menerima sirqah (jubah salik) dari Abu Bakar Al-Arabi (1076 - 1148 M). Selain mengajar di Universitas Qarawiyyin, Ali Ibnu Harzihim mendirikan zawiyah Al-Ghazali di Fez, Maroko. Ali Ibnu Harzihim berperan dalam penyebaran ajaran Al-Ghazali di Afrika Utara. Dalam mengajarkan Ihya, Ibnu Harzihim mewajibkan para muridnya untuk menuliskan Ihya ‘Ulumuddin dari awal sampai akhir setiap tahunnya.

Muridnya yang terkenal adalah Abu Madyan (1126 - 1198 M), seorang sufi besar Maroko—bahkan Syeikh Akbar Ibnu Arabi (1165 - 1240 M) menggelarinya shaykh al-mashayikh (guru dari para guru). Pertemuan Ibnu Harzihim dengan Abu Madyan berlangsung di Universitas Qarawiyyin, tempat Ibnu Harzihim mengajar. Selain Abu Madyan, beberapa generasi kemudian, melalui Ibnu Masyisy dan juga melalui kajian Ihya dari cucunya, Muhammad Harazim, terdapat nama Abu al-Hasan asy-Syadzili (1197 - 1258 M) yang kemudian menjadi pendiri sebuah tarekat besar di Mesir: Tarekat Syadziliyah.

Meski Sidi Harzihim tidak meninggalkan karya berupa kitab yang tersisa hari ini, namun upayanya menjaga kitab Ihya ‘Ulumuddin amatlah penting dan berharga bagi kaum muslimin di Afrika Utara dan Dunia Islam umumnya. []