Catatan Mursyid: Yang Tertulis di dalam Alwaah Nabi Musa a.s.

Catatan Mursyid: Yang Tertulis di dalam Alwaah Nabi Musa a.s.

Catatan Mursyid: Yang Tertulis di dalam Alwaah Nabi Musa a.s. | Khazanah Kadisiyah

Ditulis pada: | Oleh:

Dalam bahasa Al-Qur’an, alwaah adalah kata benda jamak dari lauh-lauh (loh-loh), yang dalam peristiwa Nabi Musa alaihis-salaam wujudnya berupa dua bilah papan batu, di mana pada keempat muka dari lauh tersebut terpahat serangkaian Firman-Nya. Al-alwaah tersebut kemudian Allah berikan kepada Nabi Musa a.s. setelah ia bermunajat di atas Bukit Sinai (Thursina) selama 40 malam.

Allah pun memerintahkan Musa a.s. untuk membuat Taabut, yaitu semacam wadah bagi lauh-lauh Allah tersebut. Di mana bahan, ukuran, maupun bentuk dari Taabut tersebut secara terperinci telah Allah firmankan kepada Nabi Musa a.s. sebagaimana Allah telah merinci kepada Nabi Nuh a.s. ihwal wujud dari bahtera yang harus dibuat.

Kita mengenal apa yang Allah “tuliskan” pada lauh-lauh Musa a.s. tersebut sebagai “Sepuluh Perintah Tuhan” (The Ten Commandement) bagi kaum Bani Israil, yang mana uraian dari 10 Firman Hukum tersebut secara terperinci dapat kita baca dalam Kitab Perjanjian Lama.

Namun, jika kita membaca Firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-A’raaf [7] ayat 145, apa yang tertulis di dalam lauh-lauh Musa a.s. tersebut tampaknya bukan sekedar uraian tentang kesepuluh Firman Allah, lebih dari itu! Mengandung hakikat dan rahasia hukum dari segala sesuatu, di mana kalimat “segala sesuatu” pada ayat ini telah Allah tegaskan dalam dua kali ucapan:

Wa katabnaa lahuu fil-alwaahi min kulli syai’in, mau’idhatan wa tafshiilan likulli syai’in” (Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada al-alwaah / lauh-lauh, tentang segala sesuatu, sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu).

Kata alwaah (lauh-lauh) di dalam Al-Qur’an telah Allah firmankan sebanyak empat kali. Tiga kata tertulis dalam bentuk ma’rifah, yakni al-alwaah, yang nisbatnya kepada lauh-lauh Nabi Musa a.s. (Q.S. Al-A’raaf [7]: 145, 150, 154) dan satu kata berbentuk nakirah, yakni alwaah (papan-papan bahtera), yang nisbat dari ayat ini tertuju ke Nabi Nuh a.s. (Q.S. Al-Qamar [54]: 13).

Adapun kata lauh (bentuk tunggal dari alwaah) dalam Al-Qur’an hanya ada satu, yaitu yang terangkai dalam kalimah Lauh Mahfudh (Q.S. Al-Buruuj [85]: 22), dan ini adalah “Kitab Segala Sesuatu”, kitab induk dari segala sesuatu sebelum segala sesuatu itu diberi perwujudan dengan perantaraan “Kun!

Dalam Kitab Thaharatul-Qulub, karya Syaikh al-Arif-billah Abdul Aziz ad-Dairini rahimahullah, tertulis suatu uraian tentang apa yang Nabi Musa a.s. temukan di dalam lauh-lauh:

Ketika Musa a.s. membaca lauh-lauh tersebut, ia mendapati suatu berita tentang sifat-sifat suatu umat yang Allah rahmati, mereka adalah umat yang akan muncul di masa depan, jauh setelah jaman Musa a.s.

Berkatalah Musa a.s., “Ya Allah! Siapakah gerangan umat yang dirahmati seperti yang aku dapati dalam lauh-lauh ini?”

Maka berfirmanlah Allah: “Itu adalah umat Muhammad! Mereka rela dengan rezeki yang sedikit yang Aku berikan kepada mereka, maka Aku pun rela dengan amalan yang sedikit dari mereka! Akan Aku masukkan mereka ke dalam surga dengan kesaksian laa ilaaha ilallah!”

Berkata Musa a.s., “Ya Allah! Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang akan dibangkitkan pada Hari Qiyamah dengan wajah-wajah yang bercahaya seperti bulan purnama, jadikanlah mereka itu umatku!”

Berkatalah Allah: “Mereka itu umat Muhammad! Aku bangkitkan mereka pada Hari Qiyamah dengan wajah-wajah yang bersinar dan bercahaya disebabkan oleh bekas-bekas wudhu dan sujud mereka.”

Berkata Musa a.s., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang berkain selendang di pundak dan bersenjata pedang di bahu masing-masing, mereka itu orang-orang yang senantiasa bertawakal dan dadanya penuh dengan keyakinan, mereka menyerukan nama Allah di hadapan tiap-tiap rumah Allah untuk berjihad di atas kebenaran, sehingga akhirnya mereka pun membunuh Dajjal, jadikanlah mereka itu umatku!”

Berfirman Allah: “Tidak, mereka itu umat Muhammad!”

Berkata Musa a.s., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang bershalat lima kali dalam sehari semalam, sehingga terbukalah pintu-pintu Langit dan turunlah rahmat atas mereka, jadikanlah mereka itu umatku!”

Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”

Berkata Musa a.s., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang berpuasa dalam sebulan (Ramadhan) untuk-Mu, lalu Engkau mengampuni kesalahan-kesalahan mereka sebelum itu, jadikanlah mereka umatku!”

Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”

Berkata Musa a.s., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang mengunjungi Baitul Haram karena-Mu, tiada keperluan lain kecuali itu, mereka hanya meratap dan menangisi diri sendiri serta mengkumandangkan gema Takbir untuk membesarkan nama-Mu, jadikanlah mereka itu umatku!”

Berfirmanlah Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”

Musa a.s. berkata lagi, “Apakah ganjaran bagi mereka atas perbuatan-perbuatannya itu?”

Berfirman Allah: “Aku akan menambahkan bagi mereka maghfirah (ampunan) dan akan Aku izinkan mereka memberi syafa'at kepada siapa saja yang datang sesudah mereka.”

Berkata Musa a.s., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang memohon ampun atas dosa-dosanya, mereka menyuapkan suatu makanan ke dalam mulutnya, belum sampai makanan itu ke dalam perutnya, dosa-dosanya itu telah diampunkan oleh Allah. Mereka mulai menyuapkan makanan itu dengan menyebut nama-Mu dan mengakhirinya dengan mengucapkan syukur dan memuji-Mu, jadikanlah mereka umatku!”

Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”

Berkata Musa a.s., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang lebih dahulu dibangkitkan pada Hari Qiyamah, dan mereka pulalah orang yang dicipta terakhir dari makhluk-makhluk yang lain, ya Allah jadikanlah mereka itu umatku!”

Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”

Berkata Musa a.s., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang menyimpan Kitab Sucinya di dalam dada untuk mereka baca kapan dan di mana saja mereka inginkan, jadikanlah mereka umatku!”

Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”

Berkata Musa a.s., “Ya Allah! Aku dapati di dalam lauh-lauh ini suatu umat yang apabila mereka bercita-cita untuk melaksanakan suatu kebaikan, kemudian tidak dilaksanakannya, tetap akan dicatatkan bagi mereka satu kebaikan, dan apabila mereka mengerjakan kebaikan tersebut maka akan dicatatkan bagi mereka sepuluh kali lipat dari kebaikan itu hingga 700 kali lipat pahalanya, jadikanlah mereka umatku!”

Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”

Berkata Musa a.s., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang apabila mereka bercita-cita untuk mengerjakan suatu kejahatan, kemudian tidak dilakukannya, tidaklah dicatatkan baginya suatu dosa, dan apabila dikerjakan cita-citanya itu dengan mengerjakan satu kejahatan, barulah dicatatkan baginya satu dosa! Jadikanlah mereka umatku!”

Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”

Berkata Musa a.s., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat, mereka adalah sebaik-baik manusia, mereka menyeru untuk berbuat yang ma’ruf dan melarang perbuatan munkar, jadikanlah mereka umatku!”

Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”

Berkata Musa a.s., “Ya Allah! Aku dapati dalam lauh-lauh ini suatu umat yang dibangkitkan pada Hari Qiyamah dalam tiga golongan. Satu golongan akan masuk surga tanpa hisab, satu golongan lagi akan dihisab dengan hisab yang ringan saja, dan golongan terakhir disucikan dari segala dosanya, lalu merekapun menyusul masuk ke dalam surga, jadikanlah mereka umatku!”

Berfirman Allah: “Mereka itu umat Muhammad!”

Berkata Musa a.s., “Ya Allah, Engkau telah menganugerahkan segala kebaikan kepada Ahmad beserta umatnya, maka jadikanlah aku sebagai umatnya!”

Berfirmanlah Allah, sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an, surah Al-A’raaf [7] ayat 144:

Yaa Musa! Innish-thafaituka ‘alan-naasi bi risaalaatiy wa bi kalaamiy fa khudz maa aataituka wa kun minasy-syaakiriin!” (Wahai Musa! Sesungguhnya Aku telah memilihmu di antara manusia untuk menyampaikan risalah-Ku dan kalam-Ku, maka terimalah apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah engkau menjadi orang-orang yang bersyukur)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah SAW pada suatu hari pernah bertanya kepada para sahabatnya tentang firman Allah dalam Al-Qur’an, surah Al-Qashshash [28] ayat 46: “Apa yang kalian katakan tentang firman Allah ‘Wa maa kunta bi jaanibith-thuuri idz naadainaa’ (Dan tidakkah engkau berada di sebelah Bukit Thursina ketika Kami menyeru)?”

Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya sajalah yang lebih mengetahui.”

Maka bersabdalah Rasulullah SAW: “Ketika Allah Ta’ala berbicara dengan Musa, maka Musa berkata, ‘Ya Allah adakah Engkau telah menciptakan seorang makhluk yang lebih mulia di sisi-Mu daripada aku? Engkau telah memilihku diantara banyak manusia, dan Engkau berkata-kata kepadaku di Bukit Sina (Thursina)!”

Allah berfirman, ‘Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui bahwasanya Muhammad itu lebih mulia di sisi-Ku daripada semua makhluk-Ku? Sudah Aku teliti semua kalbu hamba-Ku, maka tidak Aku dapati satu kalbu pun yang lebih merendah daripada kalbumu! Oleh karena itu Aku memilihmu diantara sekalian manusia untuk menyampaikan risalah dan kalam-Ku, maka hendaklah engkau mati dalam keadaan meng-Esa-kan Aku dan juga dalam keadaan mencintai Muhammad!’

Berkata Musa, ‘Ya Allah! Adakah di muka bumi ini suatu kaum yang lebih mulia di sisi-Mu selain daripada kaumku? Engkau telah melindungi mereka dengan tiang awan, Engkau turunkan manna dan salwa dari langit untuk makanan mereka!’

Allah berfirman, ‘Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui bahwasanya kelebihan umat Muhammad atas semua umat yang lain laksana kelebihan-Ku atas sekalian makhluk-Ku?’

Berkata Musa, ‘Ya Allah, izinkanlah aku untuk melihat mereka!’

Allah berfirman: ‘Engkau tidak akan dapat melihat mereka, tetapi  jika engkau ingin mendengar suara mereka dapatlah Aku memperdengarkannya kepadamu.’

Berkata Musa, ‘Baiklah, ya Allah, aku mau walau hanya mendengar suaranya!’

Berfirmanlah Allah, ‘Wahai umat Muhammad!’, maka sekalian umat Muhammad menyahut seruan ini bersama-sama dengan suara yang lantang, ‘Labbaik allaahumma labbaik!’ (Kami datang ya Allah kami datang!), sedangkan ketika itu mereka semua masih berada dalam tulang sulbi ayah-ayah mereka!

Maka berfirman Allah: ‘Rahmat-Ku mendahului murka-Ku, dan ampunan-Ku mendahului siksaan-Ku. Ketahuilah sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu sekalian sebelum kalian memohon ampun kepada-Ku! Aku telah mengabulkan permintaan kamu sekalian sebelum kalian kalian memohon kepada-Ku! Aku telah memberi kalian sebelum kalian meminta kepada-Ku! Oleh karena itu, barangsiapa diantara kalian datang menemui-Ku dengan membawa kesaksian Laa ilaaha illallah Muhammadar rasulullah (Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah), niscaya Aku mengampuni segala dosanya!’.”

Sabtu, Bintaro, 7 Mei 2011, 23.00 WIB