Subhanallah dan Bertasbih

Subhanallah dan Bertasbih

Subhanallah dan Bertasbih | Khazanah Kadisiyah

Ditulis pada: | Oleh:

"Subhanallah" terdiri dari kata "subhan" dan "Allah", yang sering diartikan sebagai "Maha Suci Allah". Akar kata "subhan" adalah "s-b-h" (huruf Arab sin-ba-ha) yang muncul 92 kali di 87 ayat di dalam Al-Quran. "Tasbih" juga berakar kata sama, sehingga "bertasbih" sering diartikan sebagai "mensucikan (nama-Nya)" atau bahkan berdzikir "subhanallah, subhanallah".

Namun akar kata "s-b-h" ini arti aslinya adalah "berenang" atau "mengapung". Seorang "perenang", misalnya, dalam bahasa Arab disebut "sabbah".

Dari sini bisa kita pahami mengapa "subhan" diterjemahkan sebagai "maha suci". Bukan dalam arti bersih atau kudus, tapi lebih sebagai sesuatu yang "tak tercela/terkotori": sesuatu yang tetap "mengapung", tak tenggelam oleh anggapan buruk atau segala atribut negatif apapun tentang Dia.

"Wassabihaati sabhan" di ayat 79:3 — keduanya berakar kata "s-b-h" — diterjemahkan oleh Kementerian Agama RI sebagai "yang turun dari langit dengan cepat", walaupun hampir semua penerjemah Al-Quran berbahasa Inggris menggunakan "those who swim/glide smoothly/serenely", yaitu "yang mengapung atau melayang-layang (dengan tenang, tiada halangan)."

Ayat 21:33 dan 36:40 menyebutkan tentang siang dan malam, matahari dan bulan, yang "fi falakin yasbahun", yaitu "beredar dalam garis edar". "Yasbahun", juga berakar kata "s-b-h", tentu secara harfiah berarti "berenang" atau "mengapung", sehingga tidak salah pula jika para penerjemah berbahasa Inggris membahasakan benda-benda langit yang "fi falakin yasbahun" itu dengan "swimming in an orbit", yaitu "berenang di sebuah orbit". "Falakin" sendiri di ayat itu seakar-kata dengan "al-fulk" yang bermakna "perahu" atau "bahtera".

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَـٰوَٰتُ ٱلسَّبْعُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلَـٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. - (Q.S. Al Israa' [17]: 44)

Di dunia ilmu fisika, Newton menjelaskan bahwa apel yang meluncur jatuh (seperti "wassabihaati sabhan" di atas) dan bulan yang mengitari bumi ("fi falakin yasbahun") sebenarnya berasal dari fenomena yang sama, "tasbih" yang sama. Einstein lalu memperkayanya dengan mengungkapkan bahwa tarikan gravitasi dan orbit-orbit itu adalah respon suatu benda (misalnya bumi) untuk mengambil jarak terpendek (energi minimum) dalam lengkungan "geodesik" yang ditimbulkan dari sesuatu yang lebih massif (misalnya matahari).

Geodesic Einstein

Newton menjelaskan bahwa apel yang meluncur jatuh ("wassabihaati sabhan") dan bulan yang mengitari bumi ("fi falakin yasbahun") sebenarnya berasal dari fenomena yang sama, "tasbih" yang sama.

Barangkali seperti itulah makna "bertasbih kepada-Nya", tidak hanya sekedar berdzikir "subhanallah, subhanallah", namun jauh lebih hakiki dari itu: berenang dan mengapungkan diri dalam bahtera kehidupan kita, tak tenggelam olehnya (tidak cinta dunia), dalam orbit dan energi minimum kita masing-masing (tujuan penciptaan tiap-tiap diri), sejengkal demi sejengkal menuju tarikan-Nya, dengan Dia Ta'ala semata sebagai pusat orbitnya.

Wallahu'alam.​

Referensi:

Al-Quran: Studi & Riset pada link http://quran.kadisiyah.org/