Oleh:

Iedul Qurban: Penyembelihan Aspek Nafsu-Syahwat dalam Diri

Iedul Qurban, bersumber dari dua kata dalam bahasa Arab, "Ied" dari kata ‘aada - ya’uudu, artinya "kembali". "Qurban", dari kata qaraba-yaqrabu, yang artinya "mendekat". Iedul Qurban kemudian saya maknai sebagai sebuah hari di mana setiap kita belajar untuk kembali merenungi hal apa yang dapat membuat kita dapat mendekati Dia Sang Maha Lembut.

Continue Reading

Oleh:

Kisah Sahabat: Shafwan bin Umayyah

Shafwan bin Umayyah adalah putra pembesar Quraisy dari Bani Jam’i. Saat kaum Quraisy bertemu Kaum Muslimin dalam Perang Badar, Shafwan hanya duduk di kejauhan menyaksikan Perang Badar dari atas sebuah bukit, hingga melihat bagaimana ayahnya dan kakaknya terbunuh dalam perang tersebut -- dan muncullah permusuhannya terhadap Muhammad. Saat Fathu Makkah (January 630 M), Shafwan lari meniggalkan Mekkah. Tetapi kembali atas bujukan Umair bin Wahab, hingga akhirnya masuk Islam.

Continue Reading

Oleh:

Kisah Sahabat: Abu Musa al-Asy

Adalah Abdullah bin Qeis, yang lebih dikenal sebagai Abu Musa al-Asy'ari, pergi meninggalkan kampung halamannya di Yaman menuju Mekah, segera setelah mendengar munculnya seorang Rasul. Abu Musa panglima perang yang hebat, penghafal Al-Quran, dan gubernur yang cakap. Hasan Basri r.a. pernah berkata mengenai perannya sebagai Gubernur di Basrah: "Tak seorang pun penunggang kuda yang datang ke Basrah yang paling berjasa kepada penduduknya selain dia." Adapun Rasulullah SAW menjulukinya sebagai "pemimpin…

Continue Reading

Oleh:

Iedul Fitri dan Misi Hidup Manusia

Iedul Fitri berasal dari kata ied (kembali, hari raya) dan fithri (pemecahan), memiliki akar kata yang sama dengan 'fitrah' yang didefinisikan dalam kamus Al-Munjid sebagai: “sifat yang dengannya setiap ciptaan yang ada (al-maujud) disifati sejak awal waktu penciptaannya. Lihat Ar-Ruum [30]:30, setiap manusia harus berjuang untuk kembali fitrah, yakni membaca diri untuk mengenali misi hidup untuk apa dia diciptakan.

Continue Reading

Oleh:

Keutuhan Lahir-Batin Dalam Beragama

Pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabat, syariat lahiriah dan syariat batiniah menyatu dalam diri seorang hamba Allah. Namun dalam perkembangan politik dan ekonomi umat Islam, banyak kaum muslimin terlarut oleh kehidupan dunia. Hal itu menimbulkan perlawanan oleh beberapa orang yang memilih hidup menjauhi dunia. Dan mulailah keterpisahan antara kaum yang menikmati kemewahan dunia dengan menjaga syariat lahir, dan kaum yang menjauhi kenikmatan dunia dengan menekankan syariat batin.

Continue Reading

Oleh:

Menemukan Cermin Diri pada Ajaran Para Wali

Mengenai langkah yang harus dijalani, janganlah kamu berlebihan, hiduplah dengan bersahaja, jangan sombong dalam berbicara, dan jangan berlebihan terhadap sesama manusia. Itulah langkah sempurna yang sejati. Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur,lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. Milikilah sikap luhur dan maafkanlah orang yang salah. Hanya itulah langkah yang sejati -- Naskah Martasinga

Continue Reading