Makna Nama dan Lambang

Makna Nama dan Lambang Kadisiyah

Asal Usul Nama Kadisiyah

DALAM tradisi tasawuf, nama sebuah thariqah dikaitkan dengan nama mursyid pendirinya. Sedangkan sebuah tugas kemursyidan, hakikinya dipikul seseorang bukanlah berdasarkan senioritas, kedekatan dengan mursyid sebelumnya, diwariskan, maupun berdasarkan pemilihan. Kemursyidan adalah sebuah tugas yang sifatnya ditetapkan oleh Allah SWT, sesuai dengan fitrah dan misi hidup seseorang.

Nama “Kadisiyah” diambil dari nama akhir Mursyid Pendiri, Bapak Suprapto Kadis. Beliau menerima Nur Ilmu Kemursyidan pada tahun 1968, saat usianya menjelang 40 tahun Masehi. Menurut penuturan Beliau, kata “Kadis” dalam penamaannya itu berasal dari kata “kudus” atau “quddus” dalam bahasa Arab, yang bermakna “suci”. Ini sesuai dengan tugas Beliau, yaitu untuk memperkenalkan dan menjabarkan kembali konsep Ruhul-Qudus yang ada dalam Al-Qur-an ke dunia Islam.

Kesatuan kata dalam nama “Suprapto Kadis” bermakna “kedatangan awal untuk memperkenalkan Ruhul-Qudus”. Bapak Suprapto Kadis hadir dengan membawa Tajalli Isawiyah, khususnya tentang persoalan ke-Ruhul-Qudus-an. Ruhul-Qudus adalah esensi ruh insan yang paling murni dan paling suci, yang hadir ke dalam diri insan sebagai pembawa kabar dan pengetahuan-pengetahuan ilahiah di dalam diri. Ia berasal dari alam Jabarut, berbeda dengan Ruhul Amin yang berasal dari alam Malakut.

Tujuan sejati sebuah thariqah adalah agar sang pejalan suluk (salik) dapat bertemu dengan qudrah dirinya, kuasa Allah SWT di dalam diri: "Barang siapa mengenal dirinya akan mengenal Rabb-nya", dimana qudrah diri seseorang dibawa oleh Ruhul-Qudus yang bersemayam di dalam lubuk hati yang paling murni dan paling dalam dari sang pejalan. Dalam hal ini, “Kadisiyah” juga semakna dengan “Qudusiyah”, bahwa apa yang dibawa oleh Bapak Suprapto Kadis dan thariqah-nya juga terkait dengan persoalan qudrah diri yang dibawa oleh Ruhul-Qudus.

قُلْ نَزَّلَهُ رُ‌وحُ الْقُدُسِ مِن رَّ‌بِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَ‌ىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: Dia telah menurunkan Ruhul-Qudus dari Rabb-mu dengan membawa kebenaran, untuk meneguhkan orang-orang mukmin, dan sebagai petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. – Q.S. An-Nahl [16]: 102

Makna Lambang Kadisiyah

Lambang Thariqah Kadisiyah berupa tujuh lingkaran konsentris yang memusat pada sebuah titik. Dari titik pusat tersebut terbit tiga buah berkas cahaya yang menghubungkan ketujuh buah lingkaran. Latar belakang lambang berwarna biru langit. Adapun tujuh lingkaran konsentris, titik pusat, dan tiga berkas sinar, berwarna kuning keemasan.

Logo Thariqah Kadisiyah

Dalam khazanah tasawuf, garis-garis radial yang memancar dari suatu pusat bermakna tasbih sedangkan lingkaran-lingkaran konsentris bermakna tanzih, yang merepresentasikan Asma Allah: Adz-Dzahir dan Al-Bathin. Perpaduan antara tujuh lingkaran konsentris dan titik pusat menyatakan pertemuan antara Alam Malakut dan Alam Jabarut, yakni merepresentasikan pertemuan dua lautan (Al-Bahrayni) sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi [18]: 60, dan dua bagian rahmat Allah (kiflayni min rahmatihi) seperti diungkapkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hadiid [57]: 28.

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَ‌حُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَ‌يْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti, sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." – Q.S. Al-Kahfi [18]: 60

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَآمِنُوا بِرَ‌سُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِن رَّ‌حْمَتِهِ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُورً‌ا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ‌ لَكُمْ ۚ وَاللَّـهُ غَفُورٌ‌ رَّ‌حِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya, yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan, dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. – Q.S. Al-Hadiid [57]: 28

Tujuh lingkaran konsentris menyatakan tujuh buah maqamat jiwa (nafs) yang menjadi sumber amal shalih (dharma) dan jalan kehidupan manusia di muka Bumi, sebagaimana dinyatakan pada Al-Qur’an Surat Al-Mu’minuun [23]: 17,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَ‌ائِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ

Dan sungguh Kami telah menciptakan di atasmu tujuh buah jalan (sab’a tharaiq); dan tidaklah Kami lengah terhadap ciptaan Kami. – Q.S. Al-Mu'minnuun [23]: 17

Titik pusat melambangkan Ruhul-Qudus, suatu elemen yang berasal dari Alam Jabarut, sebagai sumber Kuasa (Qudrah) Allah SWT di dalam diri insan, yang dianugrahkan Allah SWT kepada siapa pun mukmin yang dikehendaki-Nya yang benar-benar berserah diri kepada-Nya (lihat Q.S. An-Nahl [16]: 102). Ruhul-Qudus, karena kedatangannya berasal dari amr ilahi (perintah ilahiah), disebut juga dengan Ruh min Amr.

رَفِيعُ ٱلدَّرَجَـٰتِ ذُو ٱلْعَرْشِ يُلْقِى ٱلرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ لِيُنذِرَ يَوْمَ ٱلتَّلَاقِ

(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai 'Arsy, Yang mengutus Ruh min ‘Amr-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan. – Q.S. Ghaafir [40]: 15

Tiga berkas cahaya dari titik pusat menyatakan cahaya karunia Allah SWT yang memperkuat (yutsabbitu) tiga sisi ad-diin dalam diri insan, yaitu aspek keberserahdirian (Al-Islam), keimanan (Al-Iman), dan keihsanan (Al-Ihsan). Ini adalah tiga pilar utama Agama Allah (Ad-Diin) sebagaimana Jibril a.s. tegaskan kepada Rasulullah Muhammad SAW di dalam sebuah hadits tentang Islam-Iman-Ihsan.

Warna biru langit menyatakan aspek langit atau aspek malakutiyah manusia, yaitu sang jiwa (nafs), tempat di mana cermin hati (qalb) yang jernih akan memantulkan Cahaya Ilahiyah dengan indahnya, berupa akhlak yang mulia. Biru langit ini juga menggambarkan manusia yang aspek ruhaniahnya tidak terhijab oleh aspek jasadiahnya: debu-debu syahwat duniawi dan asap (dukhaan) api hawa nafsu yang menutupi langit jiwa (nafs). Biru langit juga menyatakan sifat sikap menjunjung kehendak baik atau kebajikan, berdasarkan ketulusan hati yang tidak dibuat-buat.

Warna kuning keemasan menyatakan cahaya dari matahari dalam jiwa, yaitu Ruhul-Qudus, yang cahayanya tembus hingga ke aspek jasadiah manusia, sehingga manusia dalam hidupnya di dunia dapat berbuat dan berkarya sebagaimana yang Allah SWT kehendaki, sebagai amal shalih (dharma) yang diridhai-Nya. []