Sejarah Kadisiyah

Sejarah Thariqah Kadisiyah

SEJARAH Thariqah Kadisiyah (bahasa Arab: القادسية atau qadisiyah; bahasa Inggris: kadisiya; atau kadisiyyah) tidak bisa dipisahkan dari sejarah perjalanan hidup Bapak Suprapto Kadis sebagai Mursyid dan pendirinya. Bermula dari kehausan jiwa Beliau untuk kembali ke fitrah dirinya—siapa diri beliau sebenarnya dan untuk apa ada di dunia ini—Allah SWT telah membuka pintu taubat dan menerima pertaubatan Beliau pada usia menjelang 40 tahun. Penerimaan taubat ini ditandai dengan peristiwa musyahadah Beliau terhadap qudrah dirinya, yang terjadi pada tanggal 15 Juli 1968 di Jakarta. Sejak peristiwa tersebut, Allah SWT mengungkapkan kepada Beliau tentang misi utama hidupnya di dunia: sebagai seorang Mursyid untuk menuntun manusia bertaubat dan melakukan tazkiyatun-nafs untuk taqarrub kepada Allah SWT.

Allah SWT menempa jiwa Bapak Suprapto Kadis dan secara bertahap mengajari tentang hakikat manusia selama rentang waktu 23 tahun, sejak tahun 1969 hingga pertengahan 1992. Secara formal, tugas Beliau sebagai seorang Mursyid untuk masyarakat besar dimulai tahun 1992, pada jenjang usia 63 tahun. Oleh karena itu hari lahirnya Thariqah Kadisiyah ditetapkan pada tanggal 15 Juli 1992. Penetapan tanggal tersebut mengikuti hari dimana Bapak Suprapto Kadis mengalami “kelahiran yang kedua”, yaitu kelahiran kembali secara ruhaniyah—yaitu menjadi manusia yang utuh dan paripurna (Insan Kamil) sesuai tujuan penciptaannya—dengan mengenali qudrah dirinya dan memahami apa tugas sesungguhnya di dunia ini.

Pada tahun 1992, Bapak Suprapto Kadis berdomisili di Kompleks Krakatau Steel, Cilegon, oleh karena itu pada awal perkembangannya pusat Thariqah Kadisiyah terletak di kota ini. Thariqah Kadisiyah hanya diperuntukan bagi masyarakat muslim yang membutuhkan pengetahuan dan tuntunan untuk menempuh jalan pertaubatan. Untuk masuk ke dalam thariqah ini, Mursyid mempersyaratkan agar para calon salik sudah menegakkan kewajiban shalat yang lima waktu dan sudah bisa membaca Al-Qur’an. Dalam Ilmu Tasawuf, tahapan thariqah merupakan tahapan kedua setelah syari’ah, sesuai dengan urutan ilmunya: syariah, thariqah, haqiqah, ma’rifah.

Masa tugas Beliau, sebagaimana penuturan langsung dari lisannya, bahwa tugasnya sebagai Mursyid secara formal berdurasi dwi-windu atau dua kali delapan tahun (1992-2008), hingga usia Beliau mencapai 79 tahun. Pada rentang 16 tahun ini pusat aktivitas thariqah terletak di Cilegon.

Pada pertengahan tahun 2008, Bapak Suprapto Kadis pindah ke Bandung, oleh karena itu pusat aktivitas thariqah turut berpindah ke Bandung. Beliau tinggal di Bandung, diantara para murid Beliau selama tiga tahun, hingga Beliau berpulang ke rahmat Allah pada pertengahan tahun 2011. Beliau dimakamkan di kaki Gunung Mandalawangi, daerah Bandung Timur, pada tanggal 13 Agustus 2011, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1432.

Langkah-langkah awal

Sebelum memasuki tahun 1992, dalam rentang waktu tiga tahun (1988-1991), Bapak Suprapto Kadis diizinkan untuk menginisiasi dan membimbing beberapa murid (salik), sebagai tahapan latihan dan persiapan untuk menjadi Mursyid yang sesungguhnya.

Dalam awal langkahnya sebagai Mursyid, pada tahun 1992 Bapak Suprapto menginisiasi tidak lebih dari 12 murid, terdiri empat orang laki-laki dan delapan orang perempuan, yang semuanya berstatus mahasiswa dan mahasiswi tingkat sarjana dari dua perguruan tinggi terkemuka di Bandung. Para salik awal Kadisiyah ini merupakan sahabat-sahabat dari putri kandung dan menantu Mursyid di perguruan tinggi. Beliau memerintahkan menantunya, Bapak Zamzam A. J. Tanuwijaya, untuk memberi pengajian Al-Qur’an dengan tema taubat dan tazkiyatun-nafs sebagai materi pembekalan, sebelum para calon salik diinisiasi pada jalan Thariqah Kadisiyah. Pengajian dengan materi suluk yang berdasarkan arahan Bapak Suprapto Kadis ini kelak diberi nama “Kajian Serambi Suluk”.

Bapak Suprapto Kadis sangat melarang seseorang untuk menapaki jalan suluk tanpa ilmu dan pemahaman, sebagaimana perkataan Beliau bahwa bersuluk itu ilmunya, tujuannya, dan tahapan-tahapannya harus berlandaskan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ‌ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَـٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawab. – Q.S. Al-Israa' [17]: 36

Bandung merupakan kota dengan pertumbuhan jumlah salik Kadisiyah yang paling pesat dari tahun ke tahun dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Pulau Jawa. Hingga tahun 1994 jumlah salik di Bandung telah mencapai 45 orang, mayoritas terdiri dari mahasiswa berbagai perguruan tinggi. Karena jumlah salik di Bandung semakin banyak, maka pada tahun 1994 Bapak Suprapto Kadis memerintahkan menantunya agar membuat wadah organisasi formal bagi para salik untuk berhimpun dan beraktivitas. Wadah ini pada awalnya berbentuk Yayasan, yang Beliau namai “Paramartha”. Pada saat ini (2015), wadah tersebut berbentuk perkumpulan, yang bernama “Perkumpulan Islam Paramartha-Kadisiyah (PIPK)”.

Berkembang ke berbagai kota

Berawal dari pengajian-pengajian rumahan yang sederhana di Kota Bandung, Cilegon, dan Jakarta, maka dalam rentang hampir 20 tahun hingga tahun 2011 pada saat Bapak Suprapto Kadis wafat, jumlah salik Kadisiyah sudah mencapai 600-an yang tersebar di berbagai kota baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Komunitas salik Kadisiyah di dalam negeri tersebar di banyak wilayah seperti di Bandung, Cilegon, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Makassar, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Pekanbaru, dan Pontianak. Juga tersebar di luar negeri seperti Philadelphia (Amerika Serikat), Ho Chi Minh (Vietnam), Odense (Denmark), dan Amsterdam (Belanda).

Sepeninggal Bapak Suprapto Kadis, aktivitas Thariqah Kadisiyah berpusat di Bandung. Mandat kemursyidan Kadisiyah dilanjutkan oleh Bapak Zamzam A.J. Tanuwijaya, yang merupakan murid pertama Bapak Suprapto Kadis di Bandung, yang diinisiasi pada tahun 1991. Kehadiran Thariqah Kadisiyah di tengah-tengah masyarakat umum adalah untuk melayani kaum muslimin yang haus untuk ber-taubat (kembali kepada Allah) dan membutuhkan jalan suluk untuk taqarrub kepada Allah SWT.

اتَّبِعُوا مَن لَّا يَسْأَلُكُمْ أَجْرً‌ا وَهُم مُّهْتَدُونَ

Ikutilah orang yang tiada meminta imbalan kepadamu, dan mereka orang-orang yang terpimpin oleh petunjuk (Allah). – Q.S. Yaasiin [36]: 21

 

Keterangan: Foto Masjid Agung Demak di akhir abad ke-19 di awal tulisan ini berlisensi Creative Common CC BY-SA 3.0 dan merupakan milik Tropen Museum, Belanda. Sumber foto terdapat di tautan ini.